Jangan Penjarakan Kebahagiaan Anak

20120201-130511.jpg

Dunia anak memang dunia penuh dengan tawa dan bahagia, dunia orang tua penuh dengan pertimbangan dan proteksi, dua hal yang berlawanan ini bisa membuat hubungan antara anak dan orang tua menjadi suatu masalah.
Banyak sekali pendapat dan ilmu untuk mengetahui dan mempelajari tumbuh kembang anak secara fisik maupun psikis.
Saat ini aku berperan sebagai orang tua bagi dua anakku yang kata para ahli berada di usia emas dimana rasa ingin tahunya sangatlah besar, sesuatu yang baik dan buruk bagi mereka masihlah sangat kabur atau bahkan sangat jelas. Dan aku pernah menjadi seusia mereka yang penuh dengan gejolak dan fantasi.
Sebagai orang tua baru, hal ini juga menjadi sesuatu yang bar yang tak pernah kupelajari sebelumnya, pertimbangan dan proteksi mulai bergulat di otakku tapi aku tak mau memenjarakannya atau merantainya dikasur, setiap hari atau setiap pertambahan tinggi tubuhnya merupakan pelajaran bagiku untuk mempelajari keunikannya. Aku tak bisa memaksakan mereka menjadi seperti yang kumau karena kita tahu mereka adalah makhluk bebas yang memiliki akal dan pikiran, mereka adalah titipan untuk kembali ke rumah sebenarnya untuk mempelajari dunia ini, tugas kita adalah memberikan referensi untuk mereka pilih.
Sebagai orang tua pasti ada keinginan yang diharapkan pada sang anak dan tanpa kita sadar kadang hal itu merupakan suatu tekanan bagi si anak dan tanpa sadar pula kita memenjarakan kebebasannya untuk menjadi pribadinya sendiri.

Coba kita berkaca apakah kita termasuk orang tua yg memaksakan kehendak untuk anak-anak kita?

Orang tua selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya itu pasti dan harus seperti itu, maka kita masukkan anak-anak kita kesekolah terbaik di kota dengan metode pembelajaran all day school atau metode yang terbaik menurut kurikulum masing-masing sekolah dengan harapan semua pelajaran bisa optimal diberikan si anak dan dibawah pengawasan sekolah (apalagi jika ortu bekerja, hal ini adalah solusi yang menurut mereka baik untuk mengurangi kekhawatiran dengan tanpa adanya penjaga dirumah). Pasti harga sekolah ini sangatlah mahal.. Tanpa adanya diskusi dengan anak, langsung saja didaftarkan si anak ini ke sekolah terbaik (katanya) berapapun biayanya untuk bisa masuk akan dibayar oleh ortu karena ortu adalah orang yang mampu. Sekolah sudah penuh untuk jalur normal maka dari pihak sekolah diberi solusi untuk membayar beberapa kali lipat dan dimasukkan ke bangku cadangan, ortu setuju dan anakpun bisa bersekopah di sekolah terbaik itu.
Apakah itu baik? Tergantung siapa yg menilai.. 🙂
Kadang kita sangat mengingkari kemampuan anak.. Kita teramat tidak percaya dengan kemampuan anak sendiri.. Yang terbaik belum tentu yang benar-benar baik untuk mereka..

20120201-130812.jpg

Si anak sedang bermain diruang keluarga, tak jarang membuat kekacauan padahal mereka berkreasi, mereka ingin menunjukkan hasil karyanya saat ortu pulang kerja nanti, belum sempat mereka bertegur sapa, ortu melihat lantai berserakan, kerena capek pulang kerja dan pekerjaan ditempat kerja menumpuk stress melanda ortu langsung memarahinya dengan muka serem dan suara meninggi.. si anak kaget dan langsung menangis karena seperti melihat setan di film-film kuntilanak atau pocong di bioskop nasional..

Si anak sedang bermain, ortu menyuruh anak tidur, karena si anak sedang asyik dengan dunianya si anak rewel nggak menghiraukan ajakan ortu.. Si ortu capai dan juga ortu sebenernya pengen tidur.. Si ortu marah karena si anak gak menuruti keinginan ortu.. Akhirnya dibuatlah cerita seram yang bohong.. ‘hiii kalo gak mau bubuk nanti dibawa kuntilanak loo.. Tu dipojokan situ lagi nungguin kamu’.. Karena pikiran anak yang lugu dan masih butuh banyak informasi dan informasi itupun terekam dibawah alam sadarnya.. Akhirnya si anak mau tidur dengan pikiran galau yang menghantui otaknya. Padahal hal itu kebohongan (yang dibuat ortunya sendiri) dan kebohongan itupun dibawa sampai nanti.. Siapa yg mengajari keburukan?.. Akhirnyan si anak menjadi penakut dan percaya berita bohong bahwa dipojokan ada kuntilanak dan membawa anak-anak yang gak mau bubuk..! (Ironisnya nanti saat si anak punya anak, kemungkinan berita bohong itu diceritakan lagi kepada anaknya untuk menuruti keinginan ortunya(lagi) dan berulang terus menjadi legenda yang dipercaya).

Kalo ini dari keluarga yang mampu dan sangat memanjakan anak.. Memang benar anak nggak boleh dimarahi.. Antara marah dan penegasan itu beda tipis.. Marah adalah emosi yang kadang muncul tanpa ada alasan tertentu atau hanya karena keinginan untuk meluapkan kekesalan dan tekanan karena suatu hal dan marah pun bisa terlampiaskan ke seseorang yang tidak bersalah atau yang bisa dikorbankan (dalam hal ini adalah anak).. Anak memang gak boleh dimarahi karena marah adalah emosi .. Tapi penegasan itu perlu untuk memberi pengetahuan pada anak bahwa sesuatu itu nggak baik untuk dilakukan
Anak selalu minta alasan kenapa dilarang, kalo kita memberi informasi yang benar dan baik mereka akan mengerti.
Si anak yang dimanjakan ini semua keinginanya pasti diruruti tanpa pernah memberi penegasan maupun alasan (mereka berpikir ini semata-mata untuk perkembangan psikis yag lebih baik).. Akhirnya apapun maunya pasti ada, merengek meminta sesuatu dalam sekejab pasti ada, berbuat kekacauan tidak ditegaskan hanya dielus-elus dan semua dibereskan oleh ortu.. Nyaris semua bim salabim pasti jadi pasti ada dan pasti terkendali, siapa yang capek? Ya namanya pengorbanan, nah apakah ini baik? tergantung juga yang menilai.. Nanti akan kita lihat 5-10 tahun kedepan..

Suatu hari ada lomba mewarna tingkat TK se-Jawa Timur karena kebetulan si anak mahir mewarna dan kebetulan mengikuti sanggar mewarna diikutkanlah si anak dengan harapan memperoleh hadiah uang tunai sebesar 5 juta, si anak sudah dijanjikan macam-macam dengan syarat menang dan mengikuti instruksi ortu warna apa yang digunakan. Sepanjang perlombaan ortu sangat gugup dan setiap kali meneriakkan warna apa yang harus digores pada kertas gambar si anak. Sampailah pada pengumuman, si anak nggak menang padahal hasil mewarnanya sungguh istimewa, si ortu menuntut ke juri atas keputusan juri (yang tidak bisa di ganggu gugat) ortu marah dan menuntut padahal si anak sama sekali nggak berambisi untuk menang dan anak hanya menjadi mouse atas perintah ortu… Nah siapa yang berambisi untuk menang? kasihan anak hanya sebagai tool atau alat ambisi ortu tanpa membebaskan dia berkreasi, mungkin si anak malu melihat ortu marah pada juri menuntut kemenangannya yang memang sudah kalah saat awal mengikuti lomba itu.

20120201-131030.jpg

Karena masa kanak-kanak adalah saat paling baik untuk memberikan informasi yang terbaik, jadilah yang terbaik untuk kebaikannya, karena mereka seperti kanvas putih yang menunggu untuk digores diwarnai dan dibentuk.
Orang tua adalah sumber referensinya.. apa yang dilakukan orang tua adalah panutannya..
Jangan penjarakan kebahagiannya, bermainlah bersama bukan menuntutnya untuk melakukan keinginan kita.. 🙂

So I really wanna be a good parent for their lifetime in this world.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s