Sepi Memburuku

20130214-201420.jpg

Pukul 9.00 pagi, cuaca sangat dingin diluar, aku harus berjalan keluar menuju 45 menit ke tempat kerja sebuah minimarket.
Itabashi kota kecil nan tenang, jauh dari hiruk pikuk Harajuku dan disini aku sekarang, sendiri.
Persis seperti film Lost in Translation yang pernah kutonton setahun yang lalu kadang aku tersesat dan sepi.

Aku berjalan menuju stasiun kereta api bawah tanah menapaki jalan yang licin karena salju yang mulai leleh,angin kencang mendorongku membuatku seperti berlari, kadang sedikit terpeleset.. Ouch!

Percakapan ringan dari dua remaja dengan setelan jaket berbulu dan boot selutut tentang bintang idola remaja Lar’c En Ciel, perbincangan yang seru dengan logat Jepang yang kental, terdengar lucu ditelingaku, aku tersenyum teringat film Oshin di masa kanak-kanak, dan sekarang lidah Jawaku berbicara Jepang menanyakan harga sebungkus kerang dipasar ikan.
Pipinya merah merona, kilatan matanya bersemangat saat mereka menyenandungkan lagu idolanya itu

READY STEADY CAN’T HOLD ME BACK
READY STEADY GIVE ME GOOD LUCK
READY STEADY NEVER LOOK BACK
LET’S GET STARTED READY STEADY GO

fukitonde yuku fukei korugaru you ni mae e
kurushi magure demo hyouteki wa mou minogasanai

Mereka tersipu mendapatiku memandanginya..
Remaja itu terkikik dan heran, berlalu seperti angin.

Kulewati pedestrian yang becek, disampingku adalah taman sakura yang sangat indah saat musim semi tiba.. Ah taman..
Taman ini selalu mengingatkanku padanya, mengingatkanku pada musim-musim semi yang lalu, bersepeda, duduk dibangku taman itu, dia menyodorkanku naan bread, dia ahli dalam hal roti, bercerita tentang cuaca atau bahkan menghitung jumlah nenek-nenek yang melintas and.. We both like music!

Kupercepat langkahku, bukan karena lari ketakutan karena bayangannya.. sudah lupakan..

Kulewati jalan setapak, terdengar sayup lagu Steve Forbet dari toko mainan, ya tentu saja pemiliknya adalah seorang seniman tua yang menghabiskan usia pensiunnya dengan berjualan kerajinan keramik yang lucu.. seorang yang ramah dan selalu menmbungkukkan kepala dan dada khas masyarakat Jepang, saat kusapa.. konichiwa..
Ah lagi-lagi aku teringat Dia, selalu tentang Dia.

Ingin kuhapus saja memeori tentang Dia, tapi jalan-jalan ini terlalu banyak kulalui dengannya, Kurasa aku tidak jatuh cinta tapi kurasa Dia lebih dari sekedar seorang teman, dia menyebalkan tapi juga tak henti membuatku bisa tertawa dan bertahan di negari gempa bumi ini.

‘Clung’ push notification mengagetkanku, berharap ada kabar baik yang membuatku merona, kuambil dari kantong jaketku, reminder untuk beli gula.. Hehhe..
‘Clung’ lagi, push notification im+ muncul, mendadak angin dan dingin ini menjadi musim semi, hangat menjalari tubuhku, tepat saat kereta datang, saat dia.. ya.. Dia.. menyapaku di chat dialogku.. ‘dd, whatchadoin?’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s