Quite Time

Dan malam itu saat gerimis saja yang bercerita, aku mendengar dengan diam.

Adalah dia yang menyodorkan secangkir kehangatan, sedikit manis sekaligus pahit.

Sebuah kenangan lewat begitu saja seperti mobil yang melintas diseberang sana.

Kilatan lampu kota dan surutnya kemacetan menandakan malam telah datang..

Aku berdiam memandang sebuah cangkir terisi separuh penuh melelehkan letih, melihat senyummu dari balik jendela.

Kamupun menatap hangat menghampiri menembus dinding berkelebat dingin.

Kutahan nafas menghirup angin yang dingin aroma bunga dan tanah..

Kamupun berlalu begitu cepat dan begitu saja.

………………..

Cangkir ini telah kosong…

Tersadar akan lamunan tentangmu, Saat seseorang berdiri tepat didepanku berbisik lembut dengan ramah menyodorkan senyum dan sebuah kertas bertuliskan deret angka beserta sebuah ucapan terimakasih.

Begitu saja..

Advertisements

Sepi Memburuku

20130214-201420.jpg

Pukul 9.00 pagi, cuaca sangat dingin diluar, aku harus berjalan keluar menuju 45 menit ke tempat kerja sebuah minimarket.
Itabashi kota kecil nan tenang, jauh dari hiruk pikuk Harajuku dan disini aku sekarang, sendiri.
Persis seperti film Lost in Translation yang pernah kutonton setahun yang lalu kadang aku tersesat dan sepi.

Aku berjalan menuju stasiun kereta api bawah tanah menapaki jalan yang licin karena salju yang mulai leleh,angin kencang mendorongku membuatku seperti berlari, kadang sedikit terpeleset.. Ouch! Continue reading

Ketika Hujan dan Angin Bersepakat Datang

20121210-150031.jpg

Saat menggambar memang benar-benar terjadi hujan dan angin, kuambil kertas dan pensil lalu mulai kugambar keadaan sekitar. Dan hasilnya memang beda jauh dari keadaan sebenarnya, yang sama adalah hujan dan anginnya saja (tampak coret-coretan dengan tema kertas yang sudah kecoklatan karena terkena air hujan plus ledok *tanah lumpur dalam bahasa jawa.

Eh tapi, aku punya satu puisi saat gambar ini sedang diproses, begini bunyi puisinya.. 😉

Suatu kali aku lupa siapa diriku dan aku berubah menjadi monster atau mungkin zombi bagi sekitarku.
Manakutkan, sadis, berambisi, dingin dan tak berperasaan.. itu menakutkan.. bahkan bagi diriku sendiri.
Aku mendapat caci maki hinaan dan perasaan gundah gulana..
Beruntunglah aku terbentur tembok, jidatku biru dan aku merasa kesakitan..
Lalu tiba-tiba aku tersadar terpaku dicermin, betapa aku menjadi sangat menjijikkan dan menakutkan..
Aku berteriak memekik karna kupikir bayangan itu adalah setan gentayangan, eh ternyata itu adalah bayanganku!
Aku menangis merobek mukaku sendiri karena aku nggak mau menjadi jelmaan yang menakutkan. Lalu kurobek muka itu..
Kukuliti wajah seram itu..
Hingga telanjang dan penuh luka..
berhasil kudapati diriku masih utuh..
Aku mulai tersenyum karna kulihat dengan indahnya menjadi diriku lagi..

Be strong.. Be you!